Autodieselmagz | EGR atau Exhaust Gas Recirculation beberapa waktu yang lalutelahmenjadi pembahasan hangat dikalangan pemilik mesin diesel commonrail. Hal ini disebabkan oleh dengan kemunculan sludge atau sisa bahan bakar yang bercampur oli pada dinding katup EGR. Kendala terjadi saat mobil telah menyentuh jarak tempuh rata-rata diatas 100.000 KM. Sludge yang telah muncul pada EGR akan mempengaruhi kebersihan ruang mesin yang dilanjut dengan menurunnya performa mesin. Beberapa pemilik mobil justru mensiasatinya dengan menutup jalur EGR dengan plat besi meskipun pada akhirnya indikator check engine menyala akibat pembacaan ECU.
Adapun tujuan utama teknologi EGR ini untuk mengurangi emisi gas buang yang masih bercampur dengan bahan bakar yang tidak terbakar secara sempurna dan dimasukkan kembali kedalam ruang mesin. Sebelum keluar ke knalpot, ada sebuah katup yang berhubungan dengan Intake manifold. katup ini, sebagai jalur gas buang untuk kembali ke Intake manifold. Proses pembukaan katup itu sendiri dikontrol melalui dua model yaitu EGR kevakuman yang banyak diterapkan pada mobil-mobil lama, dan model EGR elektronik dimana kontrol terhadap buka-tutup katup dikontrol oleh komponen elektrik (ECM).
Kinerja dari EGR akan lebih baik jika didukung oleh bahan bakar dan sistem pelumasan yang baik. Teknologi EGR ini telah diterapkan pada mesin diesel dan bensin. Hal ini dilakukan demi menjaga nilai dari emisi gas buang yang berbahaya untuk manusia dan lingkungan.
